Uncategorized

Mahasiswa PTIK Sabet Medali Perunggu di Jepang

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Advanced Innovation Jam (AI-JAM) Japan 2019 yang digelar di Accenture Innovation Hub Tokyo, Minggu (8/12/2019).

Ajang ini merupakan salah satu ajang kompetisi sekaligus pameran inovasi teknologi internasional terbesar di Jepang yang diikuti oleh 159 peserta yang terbuka untuk seluruh negara, termasuk tim dari UNS ini yang beranggotakan Nur Hijrah As Salam Al Ihsan (Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer FKIP), Intan Wahyu Ningsih dan Nada Hidayatus Sangadah (Fisika FMIPA), Serta Tema Rizan Mumtaza dan Muhammad Nibraasuddin Aley Zulkarnaen (Informatika FMIPA).

Fokus AI-JAM ini seputar inovasi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Robotik, Hardware, dan Data Mining. Sehingga dalam ajang tersebut, tim ini mengenalkan inovasi berupa aplikasi yang diberi nama ‘Tuker Sampah’. Latar belakang perancangan inovasi ini adalah maraknya gerakan penukaran sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Namun sangat disayangkan gerakan-gerakan tersebut tidak termanajemen dengan baik sehingga tidak menjadi gerakan yang berkelanjutan justru seringkali hanya menjadi gerakan yang insidental.

Hadirnya aplikasi Tuker Sampah diharapkan menjadi jembatan dari gerakan-gerakan tersebut. Terdapat tiga pihak dalam aplikasi ini, yaitu sebagai penghasil sampah, pengelola sampah, dan donatur/instansi/komunitas yang dapat memberikan sesuatu sebagai hasil penukaran poin

Mekanisme dari aplikasi ini adalah ketika user menggunakan aplikasi, mereka akan mendatangi salah satu shelter terdekat untuk menukarkan sampah. Jenis dan banyaknya sampah menentukan poin yang akan mereka dapatkan. Poin-poin tersebut dapat ditukarkan dengan berbagai hal yang bernilai, seperti jasa layanan kesehatan, cash money, bibit pohon, peralatam pendakian, dll tergantung kebutuhan user.

Mengenai jangka waktu terdekat, rencana pengembangan dari aplikasi Tuker Sampah ini akan diterapkan khusus di daerah pegunungan. Terkusus lagi Gunung Lawu karena gunung tersebut merupakan gunung dengan jarak terdekat dan strategis dari letak geografis UNS sehingga dapat lebih mudah dalam uji coba realisasi tahap awal. Mekanisme pengembangan aplikasi ini yaitu ketika user (pendaki) menemukan sampah, terdapat dua opsi (memfoto untuk dikirim dalam aplikasi atau membawanya). Jika user memilih untuk memfoto maka user dengan radius terdekat yang berkeinginan membawa sampah akan dengan menemukan letaknya. Jika user memilih untuk menngambil sampah maka ketika sampai pada basecamp terakhir akan dapat ditukar dengan barang-barang pendakian sesuai poin yang didapat.

Tim tersebut secara bertahap melakukan pengembanagn aplikasi dan sistemnya. Sehingga mereka sangat terbuka dengan berbagai pihak yang ingin bekerja sama untuk merealisasikan ide yang dimiliki. Mereka pun mengharapkan dana dari investor dan juga pemerintah dalam proses pengembangan aplikasi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.